© Copyright 2014 Duta Glory Community | Irwan Wicaksono | 085728802936 Psikologi Dan Bisnis - All Rights Reserved - http://www.dni.co.id

Manifestasi Hukum Belajar Throndike dan Classical Coditioning di Kehidupan Sehari-hari




1.      The law of effect, hubungan stimulus-respons akan semakin kuat, jika akibat yang ditimbulkan memuaskan. Sebaliknya, hubungan itu akan semakin lemah, jika yang dihasilkan tidak memuaskan. Maksudnya, suatu perbuatan yang diikuti dengan akibat yang menyenangkan akan cenderung untuk diulang. Tetapi jika akibatnya tidak menyenangkan, akan cenderung ditinggalkan atau dihentikan. Hubungan ini erat kaitannya dengan pemberian hadiah (reward) dan sanksi (punishment).
                                            Contoh :
a.       Seorang anak belajar dengan giat jauh-jauh hari sebelum ujian, dan setelah ujian si anak dapat mengerjakan soal dengan baik dan mendapatkan hasil yang memuaskan. Dengan hasil tersebut maka si anak akan mengulang perilaku belajar yang baik tersebut karena si anak merasa mendapat imbalan yang berarti.
b.      Misalkan, seorang murid dapat menjawab sebuah pertanyaan dari guru, lalu guru memberikan pujian kepada murid. Maka murid akan cenderung belajar lebih giat lagi agar dapat menjawab pertanyaan dari guru dan meningkatkan pretasi belajarnya.

2.      The law of exercise, hukum ini dibagi menjadi dua, yaitu hukum penggunaan (the law of use), dan hukum bukan penggunaan (the law of disuse). Hukum penggunaan menyatakan bahwa dengan latihan berulang-ulang, hubungan stimulus dan respons akan makin kuat. Sedangkan hukum bukan penggunaan menyatakan bahwa hubungan antara stimulus dan respons akan semakin melemah jika latihan dihentikan.
Contoh ;
a.       Bila seorang anak belajar kimia dan menghafal terus menerus rumus kimia. Dan pada saat si anak mendapat pertanyaan dari guru maupun menghadapi ujian si anak dapat menjawab dengan benar. Artinya si anak melakukan respon yang benar, ddengan terus menerus berlatih dia dapat menjawab dan mengerjakan soal dengan baik.
b.      Seorang anak selalu mendapat peringkat terendah dalam beberapa semester terakhir. Namun dalam semester berikutnya si anak terus menerus belajar dan belajar. Dan akhirnya saat pengumuman hasil semester si anak mendapat hasil yang memuaskan dan prestasinya meningkat tajam.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa prinsip utama belajar adalah pengulangan. Makin sering suatu pelajaran diulang, akan semakin banyak yang dikuasainya. Sebaliknya, semakin tidak pernah diulang, pelajaran semakin sulit untuk dikuasai.

3.      The law of readiness, hukum ini memberikan keterangan mengenai kesiapan seseorang merespons (menerima atau menolak) terhadap suatu stimulan. Pertama, bila seseorang sudah siap melakukan suatu tingkah laku, pelaksanaannya akan memberi kepuasan baginya sehingga tidak akan melakukan tingkah laku lain.
Contoh ;
a.       peserta didik yang sudah benar-benar siap menempuh ujian, dia akan puas bila ujian itu benar-benar dilaksanakan.

b.      Kedua, bila seseorang siap melakukan suatu tingkah laku tetapi tidak dilaksanakan, maka akan timbul kekecewaan. Akibatnya, ia akan melakukan tingkah laku lain untuk mengurangi kekecewaan. Contoh peserta didik yang sudah belajar tekun untuk ujian, tetapi ujian dibatalkan, ia cenderung melakukan hal lain (misalnya: berbuat gaduh, protes) untuk melampiaskan kekecewaannya.

c.       Ketiga, bila seseorang belum siap melakukan suatu perbuatan tetapi dia harus melakukannya, maka ia akan merasa tidak puas. Akibatnya, orang tersebut akan melakukan tingkah laku lain untuk menghalangi terlaksananya tingkah laku tersebut. Contoh, peserta didik tiba-tiba diberi tes tanpa diberi tahu lebih dahulu, mereka pun akan bertingkah untuk menggagalkan tes.

d.      Keempat, bila seseorang belum siap melakukan suatu tingkah laku dan tetap tidak melakukannya, maka ia akan puas. Contoh, peserta didik akan merasa lega bila ulangan ditunda, karena dia belum belajar.

4.      Generalisasi
Generalisasi dalam pengkondisian klasikal adalah tendensi dari stimuli baru yang sama dengan conditioned stimulus yang asli untuk menghasilkan respons yang sama (Jones, Kemenes, & Benjamin, 2001 dikutip dari Psikologi Pendidikan).
Contoh ;
a.       Seorang anak sangat menggemari masakan ibunya, sehingga dia mengasumsikan bahwa setiap masakan yang enak adalah masakan dari ibunya. Saat ibunya suatu hari tidak memasak, lalu si ibu membeli makanan untuk makan malam, si anak tetap menganggap itu masakan ibunya, karena makanan itu enak.
Yang digeneralisasikan ; masakan ibunya yang enak, walaupun yang dimakan bukan masakan ibunya.

b.      Suami sering sekali membawakan hadiah kepada istrinya saat pulang kerja. Sehingga saang istri menganggap bahwa setiap suaminya pulang kerja akan mendapatkan hadiah.
Yang digeneralisasikan ; hadiah yang diberikan suami saat pulang kerja, walaupun kadang tidak membawa hadiah.

5.      Diskriminasi
Diskriminasi dalam pengkondisian klasik terjadi ketika organisme merespons stimuli tertentu tetapi tidak merespons stimuli lainnya (Murphy, Baker, & Fouquet, 2001 dikutip dari Psikologi Pendidikan).
Contoh ;
a.       Seorang anak tidak mau digendong oleh orang lain, dia hanya ingin digendong oleh ibunya.
Yang didiskriminasikan adalah ; orang laing yang menggendong si anak, dan ibu si anak itu sendiri.
b.      Seorang wanita hanya mau berbelanja di mall A, saat teman-temannya mengajak untuk berbelanja di mall B si wanita itu menolak dan hanya ingin berbelanja di mall A.
Yang di diskriminasikan ; mall A, dan mall B.

6.      Extinction
Pelenyapan (extinction) dalam pengkondisian klasik adalah pelemahan conditioned response (CR) karena tidak adanya unconditioned stimulus (US).
Contoh ;
a.       Seorang pria sedang menghilangkan kebiasaan merokok. Dalam satu hari dia dapat menghabiskan 2 bungkus rokok. 2 minngu pertama dia sukses dengan hanya menghabiskan satu bungkus rokok. 1 minggu selanjutnya dia menghabiskan setengah bungkus rokok. Dan beberapa hari kemudian dia bisa berhenti merokok.
Perilaku yang dihilangkan/dilenyapkan adalah kebiasaan merokok.
b.      Seorang ibu mendidik anaknya yang punya kebiasaan bangun siang untuk bangun pagi. Hari pertama sampai satu minggu berikutnya si anakmasih harus dibangunkan oleh si ibu. Lalu dalam satu minggu berikutnya si anak diberi jam weker oleh ibunya agar bisa bangun pagi. Dan beberapaminggu selanjutnya si anak bisa bangun pagi tanpa menyalakan jam weker ataupun dibangunkan ibunya.
Perilaku yang dihilangkan/dilenyapkan adalah kebiasaan bangun siang.

Posting Komentar

Follow by Email