© Copyright 2014 Duta Glory Community | Irwan Wicaksono | 085728802936 Psikologi Dan Bisnis - All Rights Reserved - http://www.dni.co.id

Sindrom Stockholm: Bertahan di Hubungan Yang Penuh Kekerasan


Seberapa sering Anda mendengar adanya kekerasan dalam hubungan romantis seperti hubungan pacaran atau hubungan rumah tangga namun korban masih bertahan di dalamnya? Pernahkah Anda mencoba membantu korban untuk keluar dari situasi tersebut namun ia marah, menolak, dan malah memutuskan hubungan dengan Anda? Kondisi psikologis dimana korban merasa simpati pada pelaku kekerasan (abuser) atau pelaku yang memegang kendali utama (controller) dalam sebuah hubungan, bahkan mencintai, mendukung, dan membela pelaku, bernama Sindrom Stockholm.
Asal mula kata Sindrom Stockholm ini berasal pada tanggal 23 Agustus 1973 dimana dua orang bersenjata mesin memasuki sebuah bank di Stockholm. Sambil mengacungkan senjata, salah satu penjahat yang baru keluar dari penjara—Jan-Erik Olsson meneriakkan, “Pesta sudah dimulai!” Dua pembobol bank itu menyandera empat korban (tiga perempuan dan satu laki-laki) yang diikat bom pada tubuhnya.
Setelah diselamatkan, para korban menunjukkan sikap yang berbeda setelah diancam, disiksa, atau ditakut-takuti selama lima hari. Dalam media, mereka menunjukkan bahwa mereka mendukung para penyandera dan takut kepada para polisi yang menolong mereka.
Korban mulai merasa bahwa sebenarnya penyandera mau melindungi mereka dari polisi. Bahkan salah satu dari perempuan itu bertunangan dengan salah satu penyandera. Di sini terlihat jelas bahwa korban telah menjalin ikatan emosional dengan penyanderanya. Seperti yang ditulis di atas, kondisi psikologis dimana korban merasa simpati terhadap penyandera/penyiksa itu bernama Sindrom Stockholm. Keterikatan emosional dengan pelaku adalah strategi untuk bertahan dari kekerasan dan intimidasi.
Sindrom Stockholm bisa ditemukan di keluarga, hubungan interpersonal, dan hubungan romantis. Pelakunya bisa suami atau istri, pacar, ayah atau ibu, atau siapapun yang berperan sebagai pelaku kekerasan (abuser) dan memiliki posisi otoriter dan mengendalikan situasi (controller).
Setiap sindrom memilih simptom-simptom atau gejala-gejala, termasuk juga sindrom ini. Simptom-simptomnya Sindrom Stockholm adalah:
a. Korban memiliki perasaan positif terhadap pelaku
b. Memiliki perasaan negatif terhadap keluarga atau teman yang mencoba menolongnya
c. Mendukung alasan atau perilaku pelaku
d. Korban berperilaku positif yang mendukung pelaku
e. Ketidakmampuan membebaskan diri sendiri dari situasi
Telah ditemukan empat situasi atau kondisi yang mengembangkan sindrom Stockholm ini:
1. Hadirnya ancaman bagi keberlangsungan hidup seseorang (secara fisik dan psikologis) dan terdapat keyakinan bahwa pelaku akan melaksanakan ancaman.
Dalam hubungan, pelaku mengancam bahwa korban tidak akan pernah bisa meninggalkannya atau mendapatkan pasangan baru. Jika korban memutuskan untuk pergi, maka pelaku akan mengingatkan korban bahwa orang-orang di masa lalunya (pelaku) yang tidak mau mengikuti keinginannya telah mendapatkan ganjaran yang setimpal. Selain itu ada ancaman bahwa mereka telah melakukan balas dendam terhadap korban-korban yang telah meninggalkannya di masa lalu. Cerita pembalasan dendam ini untuk mengingatkan korban bahwa pembalasan dendam akan terjadi jika mereka pergi.
2. Ada persepsi kebaikan kecil yang ditunjukkan pelaku.
Dalam situasi yang penuh intimidasi dan ancaman, korban melihat sebuah harapan ketika mereka melihat ada tanda-tanda kecil bahwa situasi akan berkembang lebih baik. Ketika pelaku menunjukkan kebaikan kecil, meskipun ada manfaat untuk pelaku itu sendiri, korban menginterpretasi bahwa kebaikan tersebut merupakan sifat baik dari pelaku. Contoh kebaikan kecil dalam hubungan pacaran adalah memberikan kado, memberikan sms manis, dan lainnya. Biasanya kebaikan kecil ini diberikan setelah periode kekerasan terjadi atau bentuk perlakuan khusus agar diinterpretasikan bahwa pelaku tidak sepenuhnya jahat dan mungkin untuk beberapa waktu membenarkan perilakunya.
Hal yang sama dengan persepsi kebaikan kecil yang ditunjukkan adalah persepsi adanya sisi lembut dari pelaku. Selama hubungan, pelaku bercerita tentang masa lalunya—bagaimana mereka diperlakukan salah, disiksa, dihiraukan, atau disalahkan. Korban mulai merasa bahwa pelaku dapat memperbaiki perilaku buruk mereka dan mulai merasa mereka (pelaku) adalah seorang “korban” juga. Di sini simpati terhadap pelaku berkembang dan korban yang mengalami Sindrom Stockholm ini membela pelaku dengan mengucapkan, “Saya tahu ia telah mematahkan rahang atau rusuk saya .. tapi dia dalam masalah. Dia memiliki masa lalu yang tidak baik!” Setelah menyiksa korban, pelaku biasanya mengakui bahwa mereka membutuhkan bantuan psikolog/psikiater dan mengakui bahwa mereka memiliki gangguan mental. Simpati yang korban berikan tidak membawa perubahan pada perilaku mereka. Kenyataannya, itu malah memperpanjang waktu korban untuk disiksa. Sementara “kisah sedih” selalu dimasukkan dalam permintaan maaf mereka—setelah event penyiksaan—perilaku mereka tidak akan berubah.
3. Isolasi  perspektif lain selain pelaku.
Dalam hubungan yang penuh dengan kekerasan dan pengendalian, korban merasa bahwa mereka berjalan di atas telur – takut dalam berkata dan bertindak yang mungkin dapat memunculkan aksi kekerasan/intimidasi. Agar bisa bertahan, korban mulai melihat dunia melalui perspektif pelaku. Mereka mulai memperbaiki hal-hal yang dapat memunculkan aksi kekerasan/intimidasi, bertindak hal-hal yang dapat membuat si pelaku bahagia, menjauhi aspek-aspek dari kehidupan mereka yang memunculkan masalah. Korban menjadi berusaha memenuhi kebutuhan, hasrat, dan kebiasaan si pelaku.
Melihat dunia berdasarkan perspektif pelaku sebagai teknik untuk bertahan yang secara intens dilakukan oleh korban dapat mengembangkan kemarahan kepada orang-orang yang mencoba menolongnya. Pelaku akan marah kepada semua orang yang memberikan dukungan pada korban sehingga pelaku akan melakukan berbagai metode dan manipulasi untuk mengisolasi korban dari lingkungannya. Contohnya jika korban berhubungan dengan keluarganya dan membuat pelaku tidak suka, korban akan takut bahwa berhubungan dengan keluarga akan menambah penyebab kekerasan yang terjadi. Maka korban akan memutuskan komunikasi dengan keluarga. Korban akan melihat bahwa keluarga menjadi penyebab masalah dan harus dihindari.
4. Ketidakmampuan lari dari situasi.
Dalam kasus perampokan sebuah bank, dimana korban diancam dengan senjata, mudah untuk dimengerti bahwa korban tidak mampu lari dari situasi. Dalam hubungan yang romantis, kepercayaan bahwa tidak mampu lari dari situasi juga sangat umum. Banyak hubungan yang penuh kendali dan kekerasan yang terkunci bersama oleh masalah finansial yang saling menguntungkan, situasi legal seperti pernikahan, dan lainnya. Pada remaja dan dewasa muda, korban tertarik dengan individu yang dapat mengendalikan keadaan karena korban merasa dirinya tidak berpengalaman, tidak aman, dan kewalahan dengan perubahan yang terjadi pada hidupnya sehingga membutuhkan orang yang bisa mengendalikan untuk menstabilkan hidupnya.
Sindrom Stockholm ini bukanlah hal yang jarang dalam sebuah hubungan. Sindrom ini menciptakan hubungan yang tidak sehat antara keduanya. Ini menjadi alasan mengapa korban terus mendukung pelaku setelah hubungan berakhir. Mereka terus melihat “sisi baik” dari pelaku dan muncul simpati kepada seseorang yang melakukan kekerasan secara fisik dan psikis kepada mereka. (Nia Janiar)

Daftar pustaka:
Carver, Joseph M. Love and Stockholm Syndrome: The Mystery of Loving an Abuser.

Poskan Komentar

Follow by Email