© Copyright 2014 Duta Glory Community | Irwan Wicaksono | 085728802936 Psikologi Dan Bisnis - All Rights Reserved - http://www.dni.co.id

Meditasi (Part 1) – Kesadaran dalam Pencapaian Kebahagiaan

Meditasi (Part 1) – Kesadaran dalam Pencapaian Kebahagiaan
“Sebagai manusia kita menderita karena tidak mendapatkan apa yang kita inginkan dan tidak bisa mempertahankan apa yang sudah kita miliki” – Kalu Rinpoche
Saya tidak bahagia. Mungkin pernyataan tersebut yang membawa saya mengikuti pelatihan meditasi selama 7 hari di Vihara Mendut. Berangkat seorang diri dari Jakarta dengan segudang harapan untuk menemukan kunci jawaban atas pertanyaan yang bergelut di pikiran saya. Apa tujuan hidup saya? Apakah yang bisa saya lakukan dengan emosi negatif yang menganggu dan terus muncul? Amarah dan rasa takut yang tidak bisa saya jelaskan.
Sebelum membahas lebih dalam, meditasi adalah salah satu cara untuk menggali faktor positif dalam diri seseorang. Dalam pencapaian kebahagiaan, meditasi bisa digunakan sebagai alat untuk menyadari dinamika emosi dan pikiran yang dialami manusia.
Ketika saya pertama bermeditasi, saya dibimbing oleh Pak Hudoyo. Instruksinya sangat sederhana: amati pikiran Anda, sadari ke enam indera – penciuman, penglihatan, peraba, pengecap, pendengaran, dan batin. Ia juga menekankan bahwa selama meditasi jangan mengharapkan apapun, jangan mengharap menemukan jawaban, jangan mengharap memperoleh pencerahan, amati saja semua pikiran yang muncul di dalam batin. Kala itu, saya sudah menyiapkan cangkir kosong saya untuk diisi air, saya tinggalkan semua harapan dan pencarian. Saya biarkan Pak Hudoyo mengisi cangkir saya dengan pengalaman baru.

Hari pertama biasanya adalah hari terberat, begitu juga dengan apa yang saya alami. Kami diharapkan untuk tidak berkomunikasi sama sekali, menganggap diri berada sendirian di hutan belantara, handphone pun harus dititipkan. Sehingga yang saya miliki hanyalah diri saya terisolasi dari dunia. Ternyata ketika kita tidak bicara dan berdiam diri, suara dalam pikiran sangat terdengar jelas. Bahkan ketika saya berpikir kalau saya tidak mau berpikir, pikiran mengalir terus menerus tanpa henti! Pikiran seakan berkudeta, mengambil alih diri saya. Saya tidak bisa mengendalikan pikiran saya sendiri!
Saya teringat kutipan Masaru Emoto ‘WE ARE WHAT WE FEEL AND THINK’. Bayangkan hampir seluruh kehidupan, kita tidak menyadari bahwa kita terus menerus berpikir tanpa henti! Untung-untung kalau pikiran berbicara hal positif, bagaimana jika pikiran terus menerus mensugesti diri dengan hal-hal negatif? We become what we think.
Setelah hari pertama, saya berhasil menyadari pikiran saya yang terus mengalir. Maka pada hari kedua muncul emosi-emosi dari kenangan masa lalu, baik emosi positif maupun negatif. Bercerita sedikit tentang tujuan saya ikut berlatih meditasi, salah satunya, adalah agar saya bisa mengendalikan emosi saya dengan lebih baik. Hal-hal kecil dapat membuat saya ‘meledak’. Sehingga tanpa saya sadari saya menumpuk amarah dan benci. Kembali kepada meditasi, saya menyadari bahwa saya menolak emosi-emosi negatif dan mencoba mempertahankan emosi positif. Kenangan bersama dengan mantan kekasih yang membuat saya bahagia, terus mengembara di pikiran. Padahal saya sudah putus dari dia sejak setahun yang lalu! Pikiran saya mencoba mempertahankan kenangan tersebut, padahal saya menderita karena kenangan manis itu sudah berlalu dan tidak akan terulang lagi. Begitu juga dengan emosi negatif yang muncul, yaitu perasaan bersalah ketika salah satu binatang peliharaan saya wafat akibat kecerobohan saya sendiri. Pada saat itu, saya mati-matian menolak emosi negatif tersebut dengan menghibur diri saya, dengan pembenaran-pembenaran diri. Mekanisme pertahanan yang sangat jelas mengindikasikan bahwa saya mencoba melarikan diri dari kenyataan. Dalam menyikapi emosi yang muncul, pembimbing meditasi hanya menasehati ‘amati saja emosi dan kenangan, sadari tanpa berusaha untuk mempertahankan ataupun menolak’.
Ajaran Budha mengajarkan bahwa tidak ada yang kekal. Setiap kesenangan terhadap segala sesuatu tidak akan bertahan lama. Mungkin kita akan berapi-api ketika mendapatkan promosi jabatan tapi kesenangan itu pun tidak berlangsung lama. Begitu juga dengan kesedihan, kita tidak selamanya menangisi kegagalan, tidak lama kita akan segera pulih. Itu adalah bagian dari ketidak kekalan, seperti juga pikiran yang terus menerus mengalir. Emosi pun terus mengalir, muncul dan menghilang.
Lalu bagaimana mekanisme menyadari dan mengamati pikiran menjadi sebuah cara menuju manajemen emosi? Pak Hudoyo memberikan ilustrasi yang indah: Dengan mengamati pikiran, kita menyadari berbagai macam pikiran dan emosi. Kita bisa menyadari emosi, katakanlah, marah sebelum marah itu menjadi besar. Sama seperti api tidak lah serta merta langsung besar, api disulut oleh api yang kecil. Nah, dengan menyadari marah sebelum membesar, amarah akan lebih mudah untuk diredakan. Bagaimana dengan emosi-emosi masa lalu yang selalu datang dan mengganggu? Emosi itu sudah terlanjur membesar bukan? Pak Hudoyo juga memberikan tips untuk menangani emosi masa lampau: ‘Silahkan amati dan sadari jika emosi masa lampau itu muncul, tanpa berusaha untuk menolak. Sadari saja dan amati perasaan yang silih berganti muncul bersamaan dengan ingatan. Lama kelamaan seperti foto yang pudar, ingatan masih tetap ada, namun emosi yang mengganggunya hilang’.
Terus terang sampai saya menulis artikel ini sekarang, saya belum sepenuhnya merasakan ‘hilangnya’ emosi masa lalu yang telah hinggap cukup lama di batin ini. Tapi saya bisa merasakan memudarnya emosi, walaupun belum sepenuhnya hilang. Yah, bisa dimaklumi karena ini adalah pertama kalinya saya berlatih meditasi. Dalam bukunya yang berjudul Joyful Wisdom: Embracing Change and Finding Freedom, Yongey Mingyur Rinpoche mengatakan agar kita menjadikan masalah sebagai penangkal. Dengan kata lain, emosi negatif bukanlah sesuatu yang harus ditakuti dan dihindari, namun justru dengan ‘berjalan’ bersamanya kita bisa menemukan kelegaan.
Saya jadi ingat salah satu kasus hysteria yang dialami pasien Freud bernama Anna O. Anna O ketika itu menolak untuk minum, entah apa yang menyebabkan dia seperti itu. Pada sesi hypnosis diketahui bahwa pada suatu hari Anna merasa jijik melihat seekor anjing minum, setelah Anna berhasil me-recall ingatannya itu, ia dapat minum secara normal. Sama seperti Anna O, kadang-kadang kita juga memendam emosi di dalam ketidaksadaran kita. Bahkan kita mencoba menghindar, melarikan diri, ataupun sekedar melakukan pembenaran diri atas kejadian tertentu. Efek dari melarikan diri itu ternyata terus terbawa walaupun mungkin tidak lagi teringat di kesadaran. Ajaran meditasi memberikan solusi alternatif, jauh sebelum Freud, untuk mengamati pikiran. Yakni, untuk jujur dan menghadapi emosi serta pikiran yang mengganggu secara langsung.
Singkat cerita, selama 7 hari saya rasakan latihan meditasi memberikan saya bekal untuk self-help di dunia nyata, ketika saya dihadapkan dengan berbagai macam masalah yang membuat saya tidak bahagia dikarenakan pikiran yang mengembara.

Sumber dan sumber bacaan lebih lanjut:

Posting Komentar

Follow by Email