© Copyright 2014 Duta Glory Community | Irwan Wicaksono | 085728802936 Psikologi Dan Bisnis - All Rights Reserved - http://www.dni.co.id

Kognisi sosial


Bagaimana kita berfikir mengenai orang lain. Cara kita menginterpretasi, menganalisis, mengingat dan menggunakan informasi tentang dunia sosial
Komponen dasar kognisi sosial – skema (Skema adalah kerangka mental yang menuntun kita untuk mengorganisasi sejumlah besar informasi dengan cara yang efisien). Skema berpengaruh kuat pada pemikiran sosial.
Pengaruh skema terhadap kognisi sosial  : Skema berpengaruh pada atensi, pengkodean, mengingat kembali
Skema dan atensi : Informasi yang konsisten dengan skema akan lebih diperhatikan, skema yang tidak cocok dengan skema bisa jadi diabaikan
Skema dan pengodean : Informasi yang diperhatikan akan mudah tersimpan dalam ingatan jangka panjang atau informasi yang konsisten dengan skema yang dikodekan (di-encode)
Skema dan pengingatan kembali : Informasi yang paling siap diingat adalah informasi yang konsisten dengan skema
Di saat kita harus mengolah informasi-informasi sosial yang banyak pada satu waktu kita akan menggunakan skema-skema yang kita miliki. Skema membantu pemrosesan informasi dengan usaha yang sedikit, cepat dan efisien. Skema berujud pengetahuan yang didapat dari pengalaman kita di dunia sosial . Kerugian: Skema mempunyai efek bertahan (perseverance effect) walau kita memdapat informasi yang bertentangan (contoh prasangka). Skema bisa memberikan efek pemenuhan harapan diri – ramalan yang membuat ramalan itu sendiri benar-benar terjadi (self-fulfilling prophecy). misal :  Guru-murid.
Heuristik dan pemrosesan otomatis : Guna mengurangi usaha dalam kognisi sosial. Adanya kejenuhan informasi (information overload), kita mengolah informasi dengan jalan pintas untuk mengurangi usaha mental. Heuristik adalah aturan sederhana untuk menarik kesimpulan secara cepat, tanpa usaha
Jenis heuristik : 1. Heuristik keterwakilan (heuristic representativeness): semakin mirip seseorang dengan orang dari suatu kelompok maka seseorang itu mungkin bagian dari kelompok itu , 2. Heuristik ketersediaan (availability heuristics): semakin mudah informasi masuk ke pikiran semakin besar pengaruhnya terhadap penilaian yang akan dibuat.
Pemrosesan otomatis dalam kognisi sosial : Terjadi pada saat kita sudah pengalaman, suatu tahap dimana kita dapat melakukan tugas seakan tanpa usaha, otomatis dan tidak disadari. Contoh pada kognisi sosial, kita memiliki skema tentang suatu kelompok (dokter – sibuk)
Bias-bias dalam kognisi sosial : Bias negativitas (negativity bias) orang akan lebih sensitif pada informasi negatif daripada informasi positif,  Informasi negatif dikaitkan dengan hal-hal yang merugikan, mengancam , Sehingga kita lebih sensitif kepadanya agar kita bisa merespon dengan cepat
Bias optimistik (optimistic bias): Predisposisi kita untuk mengharapkan agar segala sesuatu berjalan dengan baik, Ini terkait dengan kesalahan perencanaan: kecenderungan untuk membuat prediksi optimistis terkait dengan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu tugas
Hubungan antara afek dengan kognisi :
ü  Pada saat kita senang akan berpengaruh pada pikiran dan persepsi . Penilaian pada wawancara
ü  Ingatan yang bergantung pada suasana hati (mood-dependent memory). Jika anda menyimpan informasi dalam ingatan jangka panjang di saat sedang dalam mood yang baik, maka kita cenderung mengingat informasi itu pada saat berada dalam suasana hati yang serupa
Efek kesesuaian suasana hati (mood congruence effects) : Kecenderungan menyimpan atau mengingat informasi positif ketika berada dalam suasana hati positif dan informasi negatif ketika berada dalam suasana hati negatif
          Suasana hati positif juga terkait dengan kreativitas
          Pengaruh kognisi pada afek
          Melalui interpretasi kita atas suatu peristiwa
          Aktivasi skema
          Teknik kognisi mengontrol afek
          Melakukan pemikiran konterfaktual “peristiwa negatif yang tak dapat dihindari”
          Melakukan tindakan yang membuat kita merasa lebih baik sementara, walau berakibat tidak baik di kemudian hari
SIKAP: Pembentukan Dan Perubahannya
Pengantar  :Sikap merupakan bahasan yang menarik
Pengertian Sikap
        Pendekatan satu faktor : Sikap ditinjau dari dimensi afektif. Merupakan intensitas dari perasaan positif atau negatif terhadap objek (Thurstone)
        Pendekatan dua faktor : Tinjauan dari dimensi kognisi dan afeksi (Roosenberg). Merupakan beliefs terhadap suatu objek, lalu dievaluasi secara afektif (bisa positif atau negatif)
        Pendekatan tiga faktor :Tinjauannya dari dimensi kognitif, afektif, behavioral (Freedman,81). Merupakan kesiapan merespon dengan cara tertentu (aspek behavioral) . kesiapan dipengaruhi aspek kognitif, afektif
Struktur Sikap : Komponen kognitif,  Komponen afektif  dan Komponen konatif .Hubungan Tiga Komponen Sikap Saling kait mengkait
Teori-Teori Sikap
Ø  Pembentukan Sikap : Mendasarkan belajar & conditioning (Classical conditioning,Instrumental conditioning dan Social Learning
ü  Classical conditioning :  Terbentuknya sikap merupakan asosiasi dari pengalaman. Stimulus 1 menjadi tanda kehadiran stimulus 2
ü  Instrumental Conditioning : Dipelopori oleh Skinner. Dikenal sebagai Operant Conditioning (Sikap terbentuk karena reward & punishment (akibat dari reinforcement))
ü  Social Learning Theory (Bandura) : Sikap terbentuk melalui proses imitasi
Ø  Perubahan Sikap
ü  Cognitive Consistency Theories -> Balance theory (Heider) : Keadaan seimbang tercapai dengan adanya sikap yang sama terhadap objek. Keadaan seimbang akan relatif stabil terhadap perubahan . Jika terjadi keadaan tidak seimbang individu akan berusaha menyeimbangkan, dengan cara : Mengubah sikapnya terhadap objek  dan Mengubah sikapnya terhadap individu lain.





ü  Cognitive Dissonance Theory (Festinger) : Individu selalu berusaha menghindari   perasaan tertekan. Individu termotivasi mempertahankan konsistensi knowledge dan beliefs (elemen elemen kognitif)
Hubungan knowledge dan beliefs
v  Hubungan yang Irrelevant : Dua elemen yang independen & tidak saling pengaruh
v  Hubungan yang relevan : Consonant cognitions, hubungan dua elemen yang konsisten & saling mendukung , Dissonant cognitions, Dua elemen yang kontradiktif
Kesadaran adanya dissonant cognition menimbulkan psychological dissonant
Cara menurunkan tekanan : Mengubah elemen perilaku(Baju ditukar, dijual, dihadiahkan), Mengubah elemen kognitif lingkungan(Meyakinkan pada temannya kalau bajunya baru trend), Menambah elemen cognitif  baru(Mencari dukungan dari teman terhadap pendapatnya)
Functional Theory (Katz): Asumsi dasarnya sikap disesuaikan dengan kepentingan dan Sikap mempunyai fungsi-fungsi tertentu yang  selalu dipertahankan sehingga sulit diubah . Perubahan sikap tergantung ada tidaknya stimulus yang sesuai dengan fungsi yang dibutuhkan
Fungsi-fungsi dari Sikap :
        Instrumental and adjustive : Sikap berfungsi membantu untuk mendapatkan reward maksimal dan punisment yang minim. Individu bersikap positif terhadap objek yang memberi keuntungan , negatif terhadap objek yang tidak menguntungkan
        Knowledge : Membantu memahami peristiwa sosial
        Ego defence : Melindungi individu dari kenyataan yang tidak terpuji &melindungi harga diri/konsep diri
        Value expressive : Alat untuk mengekspresikan identitas & nilai-nilai yang dimiliki.

          Hubungan Sikap dan Perilaku : Perilaku ditentukan oleh sikap, Sikap ditentukan oleh Perilaku, Hubungan timbal balik antara sikap dan perilaku , Antara sikap dan perilaku tidak berhubungan secara signifikan
          Konsistensi hubungan sikap dan perilaku ditentukan : Pengaruh kejadian yang mengejutkan, Pengalaman langsung dengan objek, Keyakinan terhadap sikap yang dipunyai, Konsistensi internal dalam sikapnya, Kesadaran diri yang tinggi, Keyakinan diri
          Menurut Bagozzi (81), hubungan antara sikap dan perilaku dipengaruhi : Objek sikap , Pengalaman sebelumnya dengan perilaku tersebut , Keyakinan terhadap sikap yang dipunyai , Konsistensi antara respon afektif dan kognitif dan Keserasian antara sikap dengan norma yang  berlaku
          Ciri-Ciri Sikap : Sikap dapat dipelajari, Sikap itu tidak berdiri sendiri , Mengarahkan  perilaku dan Sikap bukan dibawa sejak lahir
          Pengubahan Sikap dengan Komunikasi Persuasi : Pengertian komunikasi persuasi dan Tujuan komunikasi persuasi (Perubahan sikap)
          Komponen Komunikasi Persuasi
A. Komunikator
        Aspek penting:
        Kredibilitas tinggi, mencakup: Keahlian, Daya tarik dan Terpercaya
ü  Tingkat Keahlian : Pengertian Keahlian, Dari mana keahlian didapat?, Hubungan keahlian dan nilai pesan, Hubungan cara bicara dan keahlian.
ü  Daya Tarik :  Daya tarik fisik dan Daya tarik non fisik dipengaruhi  (Kesamaan-kesamaan antara komunikator & komunikan,Perasaan suka komunikan terhadap komunikator )
ü  Terpercaya : dipengaruhi  (Karakteristik kepribadian, Penampilan fisik, Cara mengekspresikan diri  dan Perilaku komunikator (Secord & Backman, 1974)
Kredibilitas rendah menimbulkan sleeper effect (Akibatnya terjadi “sleep on” ) dan Kelompok (Kelompok mempunyai pengaruh persuasif )
B. Faktor Pesan
Pengertian  pesan
Jenis Pesan
          Pesan Rasional vs Emosional
        Pesan rasional disampaikan dengan menunjukkan fakta fakta
        Pesan emosional disampaikan dengan menimbulkan rasa takut
        Efektivitas pesan rasional tergantung penerima pesan, terkait: Tingkat pendidikan dan Tingkat keterlibatan dengan topik
        Efektivitas pesan emosional terkait:  Harga diri  dan Tingkat rasa takut
          Pesan one side vs two sided
        Pengertian pesan one-sided : Penyampaian pesan dalam hal-hal positif
        Pengertian pesan two-sided : Penyampaian pesan dari sisi positif & negatif
        Pesan two-sided dan perubahan sikap : Lebih efektif dalam mempengaruhi opini dan Perubahan sikap yang terjadi lebih tahan terhadap pesan yang akan mengubah sikap itu
          Isi pesan bisa menjadi jarak antara sumber dan penerima pesan : Pemaksaan isi pesan &  reactance
C. Penerima Pesan
          Faktor dari sisi penerima pesan:
          Keterikatan dengan sikapnya : komitmen (Tindakan yang dilandasi sikapnya dan Sikap yang dinyatakannya), Kekebalan (Pembentukan opini secara langsung  dan Melatih mempertahankan opini),  Situasi  (Persiapan diri, Distraksi  dan Repetisi), Faktor kepribadian (Suasana hati, Perhatian, Harga diri, Inteligensi)
           Disonansi terjadi (Festinger) : Inkonsistensi logis (Air membeku pada 40 derajat C), Nilai kultural (Makan dengan tangan), Pendapat umum (Lagu keroncong) dan Pengalaman (Gigit ular)

Poskan Komentar

Follow by Email