© Copyright 2014 Duta Glory Community | Irwan Wicaksono | 085728802936 Psikologi Dan Bisnis - All Rights Reserved - http://www.dni.co.id

Pemanfaatan Seni Untuk Kepentingan Pribadi



Postingan kali ini merupakan hasil wawancara yang saya lakukan terkait fenomena pemanfaatan kesenian untuk kepentingan pribadi.
Dengan narasumber Bagus Jatmiko, instruktur tari di berbagai daerah dan pegawai Taman Budaya Surakarta (TBS).

Tujuan wawancara ini untuk kegiatan UKM Multimedia Karya Kita, Universitas Setia Budi Surakarta.

Kesenian merupakan kemampuan daya, cipta, rasa dan karsa manusia yang direpresentasikan dalam media tertentu. Semua manusia memiliki sentuhan seni, seni tidak hanya melatih intelektual kita tapi juga emosional dan spiritual kita.


Begitulah pendapat dari instruktur tari segaligus pegawai Taman Budaya Surakarta (TBS), Bagus Jatmiko.

Namun banyak fenomena yang akhir-akhir ini ditemui tentang adanya kesan memanfaatkan seni untuk mencari keuntungan pribadi oleh beberapa pihak tertentu. Banyak pelaku seni yang memanfaatkan kegiatan di dunia pendidikan seperti pada UKM (Unit Kerja Mahasiswa) untuk mencari keuntungan pribadi semata.

Menurut Bagus Jatmiko, dia tidak menampik adanya hal itu. Namun dia merasa hanya satu atau dua orang tertentu saja yang memanfaatkan seni untuk mencari keuntungan pribadi. “ya, saya tidak menutup kemungkinan itu. Tapi itu mungkin hanya dilakukan oleh beberapa orang saja.” Ujar Jatmiko saat ditemui Akademia

Ia pun tidak setuju dengan pelaku seni yang hanya mencari keuntungan pribadi tanpa memberikan dedikasi dan kontribusi untuk kaum muda. “itu salah! Kita kan diminta untuk melatih, dan sebelum melatih kita kan juga harus punya komitmen dulu dengan yang ingin dilatih. Kalo ada yang seperti itu ya mungkin satu dua orang saja. Yang jelas harus ada komitmen dulu sejak awal”. Tuturnya.

Menurut Bagus Jatmiko, ini mungkin disebabkan oleh pelaku seni yang menganggap seni adalah mata pencaharian pokok, sehingga mau tidak mau harus memanfaatkan kemampuan seninya untuk mencari keuntungan.

“Saya sendiri sebenarnya tidak setuju jika ini disebut memanfaatkan seni, tapi saya juga tidak menampik adanya praktek seperti itu. Mungkin ini dilakukan oleh orang yang menganggap seni adalah sesuatu yang pokok”. Lebih tegas lagi Bagus jatmiko mengatakan bahwa mungkin selain menganggap seni sebagai pokok untuk mencari keuntungan pribadi adalah kemungkinan bahwa pelaku seni yang memanfaatkan seni tersebut tidak memiliki mata pencaharian lain. “ya mungkin saja kalo pengangguran menyebabkan hal itu.” Sambungnya.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, menurut Bagus Jatmiko, harus ada komitmen yang kuat dan kerjasama yang kuat. “Saya lebih suka menyebut ini kerja sama kita diminta untuk melatih, dan kita dihargai untuk itu. Maka harus ada dedikasi dari kami untuk adik-adik kaum muda.”

Sedangkan saat ditanya cara agar seni dalam dunia pendidikan lebih maju lagi Bagus Jatmiko menerangkan yang pertama harus ada ruang bagi kaum muda untuk berekspresi. “ruang berekspresi itu penting, UKM salah satunya, itu bagus untuk media ekspresi.” Dan yang kedua ada sarana dan prasarana yang memadai.”harus ada tempatnya, tidak perlu mewah. Itu sudah cukup.” Jelasnya.

2 komentar

“Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal.
Firman-Mu: Siapakah dia yang menyelubungi keputusan tanpa pengetahuan? Itulah sebabnya, tanpa pengertian aku telah bercerita tentang hal-hal yang sangat ajaib bagiku dan yang tidak kuketahui.
Firman-Mu: Dengarlah, maka Akulah yang akan berfirman; Aku akan menanyai engkau, supaya engkau memberitahu Aku.
Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.
Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu.”

Setelah TUHAN mengucapkan firman itu kepada Ayub, maka firman TUHAN kepada Elifas, orang Teman: “Murka-Ku menyala terhadap engkau dan terhadap kedua sahabatmu, karena kamu tidak berkata benar tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub.
Oleh sebab itu, ambillah tujuh ekor lembu jantan dan tujuh ekor domba jantan dan pergilah kepada hamba-Ku Ayub, lalu persembahkanlah semuanya itu sebagai korban bakaran untuk dirimu, dan baiklah hamba-Ku Ayub meminta doa untuk kamu, karena hanya permintaannyalah yang akan Kuterima, supaya Aku tidak melakukan aniaya terhadap kamu, sebab kamu tidak berkata benar tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub.”
Maka pergilah Elifas, orang Teman, Bildad, orang Suah, dan Zofar, orang Naama, lalu mereka melakukan seperti apa yang difirmankan TUHAN kepada mereka. Dan TUHAN menerima permintaan Ayub.

Lalu TUHAN memulihkan keadaan Ayub, setelah ia meminta doa untuk sahabat-sahabatnya, dan TUHAN memberikan kepada Ayub dua kali lipat dari segala kepunyaannya dahulu.
Kemudian datanglah kepadanya semua saudaranya laki-laki dan perempuan dan semua kenalannya yang lama, dan makan bersama-sama dengan dia di rumahnya. Mereka menyatakan turut berdukacita dan menghibur dia oleh karena segala malapetaka yang telah ditimpakan TUHAN kepadanya, dan mereka masing-masing memberi dia uang satu kesita dan sebuah cincin emas.
TUHAN memberkati Ayub dalam hidupnya yang selanjutnya lebih dari pada dalam hidupnya yang dahulu; ia mendapat empat belas ribu ekor kambing domba, dan enam ribu unta, seribu pasang lembu, dan seribu ekor keledai betina.
Ia juga mendapat tujuh orang anak laki-laki dan tiga orang anak perempuan;
dan anak perempuan yang pertama diberinya nama Yemima, yang kedua Kezia dan yang ketiga Kerenhapukh.
Di seluruh negeri tidak terdapat perempuan yang secantik anak-anak Ayub, dan mereka diberi ayahnya milik pusaka di tengah-tengah saudara-saudaranya laki-laki.
Sesudah itu Ayub masih hidup seratus empat puluh tahun lamanya; ia melihat anak-anaknya dan cucu-cucunya sampai keturunan yang keempat.
Maka matilah Ayub, tua dan lanjut umur.

Reply

“Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal.
Firman-Mu: Siapakah dia yang menyelubungi keputusan tanpa pengetahuan? Itulah sebabnya, tanpa pengertian aku telah bercerita tentang hal-hal yang sangat ajaib bagiku dan yang tidak kuketahui.
Firman-Mu: Dengarlah, maka Akulah yang akan berfirman; Aku akan menanyai engkau, supaya engkau memberitahu Aku.
Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.
Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu.”

Setelah TUHAN mengucapkan firman itu kepada Ayub, maka firman TUHAN kepada Elifas, orang Teman: “Murka-Ku menyala terhadap engkau dan terhadap kedua sahabatmu, karena kamu tidak berkata benar tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub.
Oleh sebab itu, ambillah tujuh ekor lembu jantan dan tujuh ekor domba jantan dan pergilah kepada hamba-Ku Ayub, lalu persembahkanlah semuanya itu sebagai korban bakaran untuk dirimu, dan baiklah hamba-Ku Ayub meminta doa untuk kamu, karena hanya permintaannyalah yang akan Kuterima, supaya Aku tidak melakukan aniaya terhadap kamu, sebab kamu tidak berkata benar tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub.”
Maka pergilah Elifas, orang Teman, Bildad, orang Suah, dan Zofar, orang Naama, lalu mereka melakukan seperti apa yang difirmankan TUHAN kepada mereka. Dan TUHAN menerima permintaan Ayub.

Lalu TUHAN memulihkan keadaan Ayub, setelah ia meminta doa untuk sahabat-sahabatnya, dan TUHAN memberikan kepada Ayub dua kali lipat dari segala kepunyaannya dahulu.
Kemudian datanglah kepadanya semua saudaranya laki-laki dan perempuan dan semua kenalannya yang lama, dan makan bersama-sama dengan dia di rumahnya. Mereka menyatakan turut berdukacita dan menghibur dia oleh karena segala malapetaka yang telah ditimpakan TUHAN kepadanya, dan mereka masing-masing memberi dia uang satu kesita dan sebuah cincin emas.
TUHAN memberkati Ayub dalam hidupnya yang selanjutnya lebih dari pada dalam hidupnya yang dahulu; ia mendapat empat belas ribu ekor kambing domba, dan enam ribu unta, seribu pasang lembu, dan seribu ekor keledai betina.
Ia juga mendapat tujuh orang anak laki-laki dan tiga orang anak perempuan;
dan anak perempuan yang pertama diberinya nama Yemima, yang kedua Kezia dan yang ketiga Kerenhapukh.
Di seluruh negeri tidak terdapat perempuan yang secantik anak-anak Ayub, dan mereka diberi ayahnya milik pusaka di tengah-tengah saudara-saudaranya laki-laki.
Sesudah itu Ayub masih hidup seratus empat puluh tahun lamanya; ia melihat anak-anaknya dan cucu-cucunya sampai keturunan yang keempat.
Maka matilah Ayub, tua dan lanjut umur.

Reply

Posting Komentar

Follow by Email