© Copyright 2014 Duta Glory Community | Irwan Wicaksono | 085728802936 Psikologi Dan Bisnis - All Rights Reserved - http://www.dni.co.id

Benarkah Cinta Anda Cinta Sejati?


Ada baiknya kita membaca Pengertian akan Cinta Kasih menurut Swami Wiwekananda berikut ini dari buku berjudul SUARA VIVEKANANDA yang dikumpulkan oleh Swami Ranganathananda dalam Lembaga Kebudayaan Ramakrisna, Calcutta. Diterjemahkan oleh Yogamurti Souw Tjiang Poh.

Dalam pada itu, semua bentuk-bentuk keagamaan dengan lambing-lambang ini hanyalah merupakan langkah permulaan: bukan cinta kasih yang sejati dari Ketuhanan. Perihal cinta kasih telah kita dengar berulang-ulang yang diucapkan oleh orang-orang di setiap tempat mereka itu berkata, “Cintailah Tuhan”. Rakyat jelata tidak tahu apa yang harus dicintai itu dan mereka sendiri juga yang berkata tidak tahu, sebab jika mereka sesungguhnya mencintai Tuhan, mereka tidak akan mengeluarkan kata-kata yang demikian sembrono. Setiap orang laki-laki dapat berkata yang dia bisa mencinta, tetapi segera kenyataannya dia tidak punya cinta kasihdi dalam perangai atau wataknya. Setiap wanita bisa berkata yang dia bisa mencinta, kemudian kenyataannya, sama sekali dia tidak dapat. Dunia ini penuh dengan segala percakapan tentang cinta kasih, tetapi sangat sulit sekali orang memperlihatkan cintanya.dimanakah cinta kasih? Bagaimanakah anda tahu yang disitu ada cinta kasih? Ujian pertama dari cinta ialah pertama-tama tidak adanya hal tawar-menawar. Selama saudara melihat seorang mencintai orang lain untuk mendapatkan sesuatu daripadanya, ketahuilah bahwa itu bukan cinta kasih, tetapi adalah hal jual beli. Apabila ada soal-soal membeli dan menjual, disitu bukannya cinta kasih. Maka jika ada seseorang bersembahyang kepada Tuhan dan Bermohon, “berilah saya ini, dan berilah saya itu” ini bukanlah cinta, bukan cinta kasih kepada Tuhan. Mengapa tidak? Umpama kami mengerjakan suatu persembahyangan kepada saudara, lalu saudara memberi kami sesuatu sebagai pengembaliannya/jasanya; demikian kenyataannya dan ini adalah berniaga, jual beli!

Cinta kasih selalu menempatkan dirinya sebagai si Pemberi dan bukan si Penerima. Berkata seorang anak Tuhan: “jikalau Tuhan menghendaki, saya berikan semuanya dan saya tidak akan meminta jasa apapun dari Tuhan, asya tidak menginginkan sesuatu dalam dunia ini. Saya cinta Tuhan oleh sebab saya ingin mencintai Beliau, dan saya tidak meminta sesuatu apapun sebagai balasannya. Peduli apa dengan pengertian orang lain, apakah Tuhan Maha Kuasa atau tidak? Saya tidak minta kekuasaan dari Beliau, tidak pula saya minta Tuhan memperlihatkan kekuasaanNya/manifestasi kekuasaanNya diatas diri saya. Cukuplah bagi saya, Tuhan adalah Yang Maha Welasasih, aku tidak perlu bertanya lain-lainnya pula”.
Daya apakah itu yang menarik laki-laki kepada laki-laki lainnya, seorang perempuan kepada perempuan lainnya, dan perempuan kepada laki-laki, atau hewan-hewan kepada hewan-hewan lainnya, dengan daya tariknya itu seantero dunia seakan-akan ditujukan kearah satu pusat?
Itu tidak lain daripada yang dinamakan cinta kasih. Manifestasi daripada cinta ini dapat dilihat dari atom yang terendah sampai pun pada mahluk yang tertinggi; menembusi segalanya, Maha Ada dimana- mana, itulah cinta kasih. Apa yang Nampak sebagai daya tarik (attraction) diantara mahluk-mahluk berpanca indera, mahluk-mahluk yang tak berindera, didalam arti kelompok-kelompok khusus maupun dalam Alam Semesta umumnya ini, adalah cinta kasih dari Ketuhanan.adalah pokok ini yang bekerja dalam Alam Semesta ini. Dibawah pengaruh kekuatan ini Sang Keristus telah memberikan kehidupan seluruhnya untuk manusia; Sang Buddha lebih hebat lagi sampaipun meliputi kepada binatang-binatang, ibu kepeda anaknya, suami kepada isterinya. Adapun dibawah pengaruh-pengaruh kekuatan cinta yang serupa ini sehingga orang-orang kesatrya itu menyediakan kehidupannya untuk dikorbankan/dibaktikan bagi negaranya, dan walaupun agak aneh kedangarannya, tetapi sesungguhnya dibawah pengaruh kekuatan cinta yang serupa ini, pencuri itu melakukan pencurian, pembunuh membunuh korbannya. Sekalipun dalam hal-hal demikian, jiwa manusianya tetaplah sama, hanya bentuk/corak pernyataan cinta itu adalah berlainan. Inilah daya motif yang ada dibelakang dunia ini, bahwa si pencuri itu mempunyai rasa cinta kepada emas; cinta kasih ada disitu (pada barang) tetapi dalam jurusan yang keliru. Demikian dengan kejahatan-kejahatan lainnya, seperti juga dalam hal-hal kebajikan cinta kasih yang kekal selalu berdiri dibelakangnya. Umpama seorang membuka surat check seribu dollar untuk penduduk New York sebagai amalnya kepada orang-orang miskin, dan pada saat itu dalam kamar yang sama, seorang lainnya lagi memalsu tanda tangan sahabatnya. Penerangan (lampu/sinar matahari) yang dipakai pada saat dua orang itu membubuhkan tanda tangan adalah sama, tetapi masing-masing mempunyai tanggung jawab sendiri-sendiri atas pemakaian penerangan itu. Bukanlah penerangan (the light) yang harus dipuji atau dikecam atas perbuatan-perbuatan mereka tersebut. Tidak terikat, tetapi bersinar terang pada setiap tempat, adalah cinta kasih, daya penggerak (motive power) dari pada dunia ini, tanpa itu dunia ini akan hancur dan cinta kasih ini tidak lain daripada Tuhan (and this love is God).
“Tidak ada, oh kekasih, yang mencintai seorang suami untuk kepentingan si suami itu, tetapi untuk kepentingan jiwa (bathin) yang ada di dalam diri suami itu; tidak ada, oh kekasih, yang pernah mencintai seorang istri untuk kepentingan si istri itu, melainkan untuk kepentingan jiwa yang ada di dalam istri itu. Tidak ada siapa pun yang mencintai barang-barang lainnya, kecuali untuk bathin (jiwanya)”. Sekalipun bentuk cinta dari diri pribadi yang amat tercela ini, tidak lain daripada suatu manifestasi cinta yang sama. Berdirilah disamping permainan ini, jangan mencampurbaurkan diri ke dalamnya. Tetapi lihatlah panorama yang menakjubkan ini, sebuah drama kehidupan yang agung, memperlihatkan permainan demi permainan, dan disinilah keadaan selaras yang indah sekali. Semuanya ini adalah manifestasi dari cinta yang serupa. Sekalipun dalam pengutamaan diri sendiri (selfishness); diri ini akan bertambah lipat ganda, akan tumbuh dan membesar biak. Bahwa diri yang satu ini, seorang laki-laki, akan berubah menjadi dua apabila dia menikah; beberapa diri lainnya bertambah apabila mereka mendapatkan anak; dan demikianlah diri yang satu itu tumbuh sampai dia merasakan antero dunia ini penuh dengan perangai-perangai dirinya sendiri, seluruh alam semesta ini akan penuh sebagai diri sendiri. Ia meluas kedalam satu kesatuan cinta kasih alam semesta, cinta kasih nan tak terbatas, cinta kasih ini Tuhan sendiri.
“Aku tidak menghendaki kekayaan, tidak juga kesehatan; aku tidak menginginkan kecantikan, tidak, aku tidak menginginkan intelek; biarpun kami dilahirkan, dan dilahirkan berulang-ulang di tengah-tegah segala keburukan ini dalam dunia, kami tidak akan mengeluh, tapi perkenankanlah kami untuk mencintai Dikau, dan semata untuk mencintai”. Demikian sifat kegilaan dari cinta kasih yang dapat dinyatakan dalam nyanyian ini. Bentuk cinta yang paling tajam , paling kuat, dan paling menarik dalam cinta manusia, adalah yang dinyatakan antara seorang laki-laki dengan seorang wanita, dan oleh sebab itu, maka bahasa tersebut dipergunakan orang juga untuk menyatakan suatu bhakti yang terdalam. (bentuk cinta yang paling tajam ini, antara laki-laki dan wanita, kita menpunyai istilah tertentu dalam bahasa Indonesia, yaitu apa yang kita katakan: nafsu birahi, jadi bukanlah cinta/ S. Yogamurti). Kegilaan dari cinta manusia (nafsu birahi) ini adalah suatu echo (kebalikan suara yang langsung) yang terlemah daripada keagungan cinta para Suci (atau Bijaksanawan). Kekasih-kekasih sejati dari ketuhanan menghendaki benar-benar untuk menjadi gila, supaya mabuk dengan cinta kasih Ketuhanan, menjadi “manusia yang ketagihan benar-benar akan Tuhan”. Mereka ingin meminum air nectar dalam cangkir-cangkir yang berisikan cinta kasih yang telah disediakan oleh para Guru-Guru yang Arif Bijaksana dalam setiap agama, yang telah menuangkan darah hatinya ke dalam tempat-tempat itu, dan dimana telah dipusatkan seluruh harapan mereka yang telah mencintai Tuhan tanpa mencari pahala, yaitu mereka menghendaki cinta semata-mata untuk cinta kasih saja. Pahala dari cinta kasih adalah cinta kasih saja. Pahala dari cinta kasih adalah cinta kasih, dan alangkah mulia sekali pahala ini! Hanyalah ini yang dapat menyingkirkan derita nestapa, hanya dengan minum air suci dari cangkir ini orang akan disembuhkan, dan penyakit didunia ini akan lenyap. Manusia menjadi gila dalam Ketuhanan dan melupakan diri pribadinya bahwa dia adalah seorang manusia.
Yang terakhir kita menemukan bahwa semua system yang berlainan ini, pada akhirnya akan bertemu dalam suatu titik, yaitu persatuan nan sempurna (Yoga). Kita selalu memulai langkah-langkah dalam keagamaan sebagai seorang Dualis. Tuhan adalah Mahluk yang terpisah, dan saya adalah mahluk lain yang terpisah. Cinta kasih datang menyertai di tengah-tengah, dan manusia mulai mendekati Tuhan, dan Tuhan seakan-akan mulai mendekati manusia. Manusia mengambil berbagai kedudukan-kedudukan dalam hubungan hidupnya debagai ayah, ibu, sahabat, atau sebagai kekasihNya; dan titik terakhir itu dicapai apabila dia menjadi satu dengan objek yang dipujanya. “saya adalah tuan = aku adalah engkau; dan engkau adalah aku, sambil memuja kepada-mu aku memuja kepada diri sendiri; dan selagi memuja diri sendiri sesungguhnya aku memuja dikau juga’. Disini kita mengetahui puncak yang tertinggi bentuk pemujaan (worship) yang dimulai dalam diri manusia itu. Pada mulanya cinta kasih untuk Diri, tetapi dengan adanya tuntutan-tuntutan akan diri yang kecil ini membuat cinta itu menjadi tamak (selfish); pada akhirnya sampailah kepada Cahaya yang penuh gemilang, jikalau diri (the Self atau Bathin) ini telah berubah – meluas menjadi Yang Tidak Terbatas (Infinite). Bahwa Tuhan yang mula-mulanya dipandang sebagi sesuatu Mahluk yang berada di tempat lain, telah menjadi Cinta Kasih nan Tidak Terbatas. Manusia itu sendiri pun berubah perangainya. Dia telah sempurna. Dengan kesadaran Tuhan dia telah melemparkan segala keinginan-keinginan yang sia-sia yang dahulunya demikian penuh adanya. Atas kemauannya lenyap pula segala kepentingan-kepentingan diri pribadi, dan pada puncaknya, dia yakin bahwa Cinta kasih, perbuatan mencintai, yang dicintai dan yang mencintai itu adalah Satu (Esa).

Posting Komentar

Follow by Email